Cerita

Cinta Sejati dalam Hidupku Menghilang Tanpa Jejak Puluhan Tahun Kemudian, Pemakamannya Memberiku Jawabannya — Cerita Hari Ini

Tiga puluh tahun yang lalu, dia menghilang tanpa kata-kata. Tanpa ucapan selamat tinggal. Tanpa jawaban. Hanya sebuah cangkir yang retak dan keheningan. Ketika aku menerima undangan pemakamannya, aku tidak pergi untuk berduka. Aku pergi untuk akhirnya memahami mengapa wanita yang aku cintai pergi—dan apa yang aku lewatkan sepanjang waktu.

Namanya Mara, dan dia meninggalkanku tanpa kata-kata.

Kami bukan salah satu pasangan sempurna yang kamu lihat di TV. Kami tidak cocok. Aku bekerja di konstruksi—pekerjaan yang berat.

Jam kerja panjang, pagi-pagi buta yang terasa seperti musim dingin meski musim apa pun. Punggungku sakit sebelum aku berusia tiga puluh tahun.

Tanganku selalu kasar, sepatuku selalu berlumpur. Dan Mara?

Dia adalah tipe wanita yang akan bersenandung jazz saat menggoreng telur, yang akan terpesona menatap awan, yang selalu lupa di mana meletakkan kuncinya tapi tidak pernah salah satu nada di piano.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Dia adalah seorang musisi. Bukan yang mengisi gedung konser. Dia memberi les kepada anak-anak yang mengerutkan kening dan bermain di kafe-kafe kecil di mana kopi rasanya pahit dan tidak ada yang mendengarkan.

Dia hampir tidak cukup uang untuk belanja. Aku yang bayar sewa. Tagihan. Perbaikan saat sepeda tuanya rusak.

Bukan berarti aku tidak mencintainya—aku mencintai dia. Tuhan tahu aku mencintai dia. Tapi cinta terasa berat setiap hari. Seperti beban yang kubawa di pundak saat melewati dingin.

Aku pulang dari bekerja di tengah angin atau hujan, dan dia ada di sana di lantai, dikelilingi oleh lembaran musik yang kusut dan buku-buku terbuka, bersenandung untuk dirinya sendiri seolah-olah dunia tidak hancur di sekitar kita.

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney

“Makan malam sudah di oven,” katanya tanpa menoleh. ”Oh ya, aku pikir aku sudah mengerti bagian tengah lagu yang aku ceritakan padamu.”

Dan aku mengangguk. Atau tidak. Beberapa hari aku terlalu lelah untuk menjawab. Beberapa hari aku mengatakan hal-hal yang tidak kumaksud, hanya untuk menghentikan kebisingan.

Lalu suatu malam, aku membuka pintu, dan dia tidak ada di sana.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada ucapan selamat tinggal. Hanya pergi begitu saja.

Keyboardnya, bukunya, musiknya—semua hilang. Tapi mantelnya masih tergantung di gantungan. Syal favoritnya tergeletak di sofa.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Cangkir biru tua dengan pinggiran yang retak itu masih berada di wastafel, teh dingin masih di dalamnya.

Itu terjadi tiga puluh tahun yang lalu.

Dan aku tidak pernah berhenti bertanya pada diriku sendiri: mengapa dia meninggalkanku?

Dan mengapa dia tidak memberitahuku?

Aku menerima surat itu di musim semi.

Itu adalah salah satu hari musim semi yang aneh, di mana matahari mencoba untuk hangat, tapi angin masih memiliki gigi musim dinginnya.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Aku sedang di teras, menghaluskan papan yang retak di pagar, ketika aku melihat surat mencuat dari kotak surat.

Awalnya, aku tidak memikirkan apa-apa. Tagihan, sampah, mungkin brosur taman. Tapi lalu aku melihat amplopnya—kertas tebal, putih kusam, namaku tertulis rapi di depan.

Russell.

Tidak ada alamat pengirim. Jenis formalitas seperti itu biasanya berarti masalah. Atau kematian.

Aku membukanya dengan jari di sepanjang segel dan mengeluarkan kartu kecil.

Mara Delaney. Upacara peringatan. Minggu, pukul 2 siang. Unity Chapel.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Aku menatap namanya dalam waktu lama. Nama itu tidak terlihat benar, tidak dicetak seperti itu. Tidak lagi.

Jari-jariku menjadi dingin. Aku duduk di anak tangga teras seolah-olah seseorang baru saja menghempaskan napasku.

Di bawah undangan terselip catatan pendek.

“Jika Anda memiliki kenangan atau cerita untuk dibagikan, Anda dipersilakan untuk membawanya.”

Kenangan? Aku memilikinya. Lebih dari yang pernah aku akui secara terbuka.

Aku mendengar suara hummingnya dari dapur.

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney

Cara dia menggerakkan jarinya di tepi cangkirnya saat dia sedang berpikir. Cara senyumnya bisa membuatku hancur, bahkan di hari terburukku.

Tapi aku juga memiliki keheningan. Jaket yang dia tinggalkan. Ruang kosong yang tumbuh di dalam diriku setelah dia pergi dan tidak pernah mengecil.

Selama tiga puluh tahun, aku mencoba melupakannya. Mencoba marah padanya karena pergi tanpa kata-kata. Mengatakan pada diriku sendiri bahwa dia egois. Bahwa dia menyerah terlalu mudah.

Tapi di lubuk hati, ada bagian dari diriku yang selalu ingin tahu.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Mengapa?

Jadi aku mencukur wajahku. Menyetrika satu-satunya setelan bagus yang kumiliki. Dan pada Minggu pagi, aku mengemudi dua jam ke Iowa City.

Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Untuk akhirnya menanyakan pertanyaan yang tak pernah kuucapkan:

Mengapa dia meninggalkanku?

Kapel itu kecil, hampir terlalu kecil untuk kerumunan di dalamnya. Bau kayu tua, debu, dan bunga kering yang sudah terlalu lama dibiarkan di sana.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Musik organ yang lembut mengalun di latar belakang—lambat dan hati-hati, seolah tak ingin mengambil terlalu banyak ruang.

Orang-orang berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, berbisik dengan senyum sopan. Aku tetap di belakang, tangan kucelupkan dalam saku jaket. Aku tidak mengenal siapa pun. Tidak ada satu pun wajah yang familiar.

Dan kemudian aku melihatnya.

Tinggi. Langsing. Rambut hitamnya dikepang rapi. Dia bergerak dengan ketenangan yang mengingatkanku pada Mara saat dia fokus pada sebuah lagu.

Tapi matanya yang paling membuatku terkejut. Besar, lembut, dan familiar. Itu mata Mara.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Dia sedang berbicara dengan pendeta, memegang sebuah folder dekat dadanya seolah-olah itu adalah hal terpenting di dunia.

Aku menunggu hingga ibadah selesai. Hingga sebagian besar tamu telah pergi dan bisikan suara-suara pelan mereda menjadi keheningan.

Lalu aku mendekati, perlahan dan pasti, seperti mendekati rusa liar.

“Halo,“ kataku, membersihkan tenggorokan. ‘Namaku Russell. Aku mengenal Mara… sudah lama sekali.”

Dia menoleh ke arahku. Wajahnya sopan tapi waspada. ’Namaku Ellie,” katanya. “Aku putrinya.”

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Sora

Aku merasa lantai bergetar di bawahku. “Dia tidak pernah memberitahu aku bahwa dia punya anak.”

“Aku lahir setahun setelah dia meninggalkan Cedar Rapids,” jawabnya. “Dia membesarkanku sendirian. Mengajar musik di mana saja dia bisa. Kami pindah-pindah sering. Dia tidak pernah menetap lama di satu tempat.”

“Dia tidak pernah kembali,” kataku pelan.

Alis Ellie berkerut. “Dia bilang dia menunggu. Bilang kamu tidak pernah menulis.”

Aku berkedip. “Menulis?” Suaraku tercekat. “Aku tidak pernah menerima surat.”

Dia menatapku, memiringkan kepalanya. ”Dia bilang dia meninggalkan sesuatu untukmu. Katanya jika kamu melihat judul lagunya, kamu akan mengerti. Hollow Pines. Dia bilang itu milikmu.”

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Nama itu menghantamku seperti angin dingin.

Aku ingat itu.

Dia menuliskannya di buku catatan biru. Aku menemukannya malam dia pergi. Aku tidak pernah membukanya. Hanya melemparnya ke laci, berpikir itu hanya partitur musik yang tidak akan pernah aku mengerti.

Sekarang aku tidak begitu yakin.

Aku mengemudi pulang dengan jendela terbuka, meskipun cuaca dingin. Angin menerpa wajahku, tajam dan kasar, tapi aku tidak menutupnya.

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney

Aku butuh kebisingan. Aku butuh sesuatu yang lebih keras dari pikiran yang berputar-putar di kepalaku.

Mara menulis surat?

Dia menungguku?

Jalan raya sedikit kabur saat aku mengemudi, tapi aku mengedipkan mata untuk mengusirnya. Belum ada air mata. Tidak sampai aku tahu kebenarannya.

Di rumah, aku langsung menuju loteng. Aku belum pernah ke sana bertahun-tahun. Debu menutupi segalanya. Kotak-kotak tua.

Kipas angin yang rusak. Kotak alat yang berkarat. Dan di sudut jauh, kotak susu berisi kertas dan buku catatan. Aku berlutut dan menggali isinya dengan tangan gemetar.

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney

Dan di sana ada.

Buku catatan itu.

Sampul biru. Tepinya lembut seolah sering disentuh. Hollow Pines tertulis dengan tinta hitam lembut.

Tulisan tangannya. Masih sama setelah bertahun-tahun—kecil, bulat, sedikit miring ke kanan.

Aku duduk di lantai loteng dan membukanya.

Halaman-halaman pertama dipenuhi musik. Notasi dan garis yang tak bisa kubaca. Mungkin lirik. Akord. Coretan di tepi halaman. Aku membalik halaman lain. Lalu lagi.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Dan kemudian aku menemukannya.

Sebuah surat.

Ditulis khusus untukku.

Russ, Aku melihat beban yang kau tanggung. Kau lelah. Lelah bekerja begitu keras, untuk kita berdua. Aku melihatnya di matamu, bahkan saat kau tidak bicara. Aku tahu aku membuatnya lebih sulit. Aku mencoba berubah. Mencoba menjadi lebih kecil, lebih tenang. Tapi musik adalah segalanya bagiku. Dan aku pikir aku membuatmu membenci bagian dirimu yang dulu mencintaiku. Jadi aku pergi sebelum ini menghancurkan kita berdua. Tapi Russ… jika masih ada sedikit dirimu yang menginginkanku, tulis ke alamat ini. Aku akan menunggu. Bahkan jika kau tidak mengirim apa pun, aku akan tahu. Aku akan tahu arti keheninganmu.

Cinta selamanya, Mara

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Di bagian bawah ada alamatnya. Pudar, tapi masih ada.

Aku menatap kertas itu, jariku gemetar. Jantungku berdegup kencang di dadaku.

Dia tidak menghilang.

Dia menunggu.

Dan aku tidak pernah tahu.

Keesokan paginya, aku berdiri di dekat jendela dapur dengan secangkir kopi hitam, kedua tanganku memeluk cangkir seolah-olah bisa membuatku tetap tenang.

Matahari berusaha terbit, tapi cahayanya lebih terang daripada hangatnya. Langit terlihat lelah—pucat, abu-abu, seolah-olah dia juga tidak tidur.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Aku menatap halaman. Rumput masih basah dari hujan semalam. Pakan burung berayun perlahan di angin.

Tidak ada yang terlihat berbeda, tapi segalanya telah berubah.

Aku memikirkan semua tahun yang kuhabiskan menyalahkan dia. Mengatakan pada diriku sendiri bahwa dia pergi karena dia tidak cukup peduli.

Karena dia tidak bisa menangani bagian-bagian sulit dalam hidup. Karena aku tidak layak untuk ditunggu.

Tapi semua itu tidak benar.

Dia telah berusaha. Dia telah berbicara dengan cara yang dia ketahui—melalui catatan, lirik lagu, dan sebuah buku catatan dengan namaku tertulis di antara baris-barisnya.

Dan aku bahkan tidak pernah membukanya.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Aku membiarkan kebanggaan, kelelahan, dan amarahku menghalangiku dari satu-satunya orang yang mencintaiku saat aku tidak punya apa-apa untuk diberikan selain keheningan dan otot yang sakit.

Aku berpikir dia menyerah padaku.

Tapi sebenarnya, aku yang menyerah lebih dulu.

Pagi itu, aku tidak repot-repot membaca berita atau sarapan. Aku tidak menyalakan radio seperti biasa. Aku hanya berdiri di sana, membiarkan semuanya meresap.

Membiarkan kebenaran menyakitkan di tempat yang seharusnya.

Aku tidak pernah menikah lagi. Tidak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Aku membangun tembok di sekeliling diriku selama puluhan tahun, berpikir dia pergi karena aku tidak cukup baik.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Tapi sekarang aku tahu—dia pergi karena dia berpikir dia tidak cukup.

Malam itu, aku menyalakan lilin kecil. Menaruhnya di meja samping buku catatan. Aku tidak membukanya lagi. Aku tidak perlu. Kata-katanya sudah terpatri dalam diriku.

Rumah itu sunyi.

Tidak ada piano.

Tidak ada suara.

Hanya angin yang bergerak pelan di luar jendela.

Tapi di suatu tempat dalam diriku, aku bisa mendengarnya lagi. Seperti melodi yang terdengar samar tapi tak pernah hilang.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Beberapa cinta tak pernah berakhir.

Ia hanya menunggu.

Ia menjadi bagian dari dirimu, seperti napas atau tulang.

Dan aku akan membawanya bersamaku.

Selalu.

Ceritakan pendapatmu tentang cerita ini, dan bagikan dengan teman-temanmu. Mungkin ini akan menginspirasi mereka dan mencerahkan hari mereka.

Jika kamu menyukai cerita ini, baca yang ini: Dalam 46 tahun hidupnya, Sandra belum pernah benar-benar menemukan “jodohnya”. Tapi akhirnya, setelah bertahun-tahun, dia bertemu dengan pria impiannya. Dia tidak percaya hidupnya bisa berubah begitu terlambat; apakah itu takdirnya? Sayangnya, dia mendapatkan jawabannya dari seorang peramal, dan itu bukan kabar baik. Baca cerita selengkapnya di sini.

Cerita ini terinspirasi dari kisah-kisah sehari-hari pembaca kami dan ditulis oleh seorang penulis profesional. Setiap kesamaan dengan nama atau lokasi sebenarnya hanyalah kebetulan. Semua gambar hanya untuk ilustrasi.

Artigos relacionados

Botão Voltar ao topo