Cerita

Rumah Itu Sangat Murah Sampai Aku Berpikir Aku Menang Lotere, Tapi Saat Aku Melihat Basementnya, Aku Mengerti Segalanya — Cerita Hari Ini

Saya sudah bosan membayar sewa sepanjang hidup dan siap mewujudkan impian memiliki rumah sendiri. Sebuah rumah impian dengan harga yang tak terkalahkan tampak seperti kemenangan ultimate—sampai saya menyadari ada alasan di balik harga murah itu tersembunyi di basement.

Pertama kali melihat rumah itu, saya hampir tidak percaya keberuntungan saya.

Rumah itu seperti keluar dari kartu pos—sebuah rumah kolonial yang menawan dengan dinding putih dan jendela hijau, tersembunyi di ujung jalan yang tenang dan dipenuhi pohon.

Tentu saja, catnya sedikit mengelupas dan atapnya butuh perbaikan, tapi rumah itu memiliki karakter. Keindahan yang sudah dihuni yang terasa… hangat. Hampir.

Susan, agen properti, menunggu di depan pintu, senyumnya secerah papan dokumen yang dia ayunkan di udara.

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney

“Hari yang sempurna untuk menuntaskan rumah impianmu, ya?” katanya dengan nada ceria yang membuatku bertanya-tanya apakah dia terlalu berusaha.

Aku mengangguk, tak sabar ingin melihat dalamnya. Rumah itu tak mengecewakan. Ruangan demi ruangan, seolah-olah mengungkapkan lebih banyak alasan bagiku untuk jatuh cinta.

Ruangan tamu memiliki perapian yang hampir memohon untuk digantungkan kaus kaki Natal, dan lantai kayu kerasnya berderit cukup untuk mengingatkan bahwa mereka memiliki sejarah.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Susan mengikuti di belakangku, hak sepatunya berdenting di lantai saat dia bercerita.

“Kamu tidak akan menemukan penawaran seperti ini di tempat lain,” katanya, menyisipkan sehelai rambut gelap di belakang telinganya.

“Rumah seperti ini dengan harga segini? Hampir tidak pernah ada.”

Dia benar, dan aku tahu itu. Namun, ada sesuatu yang terasa tidak beres—hanya bisikan keraguan di belakang pikiran. Suaranya semakin keras saat kami sampai di pintu basement.

Berbeda dengan yang lain, pintu ini memiliki kunci. Bukan sekadar pengait sederhana, tapi kunci yang kokoh dan berat, yang tidak pantas ada di rumah yang nyaman seperti ini.

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney

“Apa yang ada di bawah sana?” tanyaku, menunjuk ke pintu.

Senyum Susan memudar sejenak. Dia cepat pulih, tapi keraguan itu sudah cukup.

“Oh, ruang bawah tanah,” katanya, mengibaskan tangannya seolah-olah mengabaikannya. “Hanya ruang penyimpanan biasa. Aku… uh… kehilangan kuncinya. Aku akan mengirimkannya nanti.”

Suaranya bergetar, dan cara dia menghindari tatapanku membuat perutku berputar. Tapi aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku terlalu memikirkan hal itu.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Lagi pula, ini adalah rumah impianku, kan? Tempat di mana aku bisa memulai hidup baru.

Aku menandatangani dokumen-dokumen itu, dan Susan pergi dengan terburu-buru, tumit sepatunya berderak lebih cepat dari sebelumnya.

Saat aku mulai menurunkan kotak-kotak dari mobil, matahari sudah terbenam, menyorot bayangan panjang di sepanjang jalan.

Itulah saat aku melihatnya—seorang wanita tua berdiri di teras rumah sebelah.

Wajahnya dipenuhi kerutan dalam, dan bibirnya yang tipis mengerut menjadi garis ketidaksetujuan, seolah-olah dia baru saja menggigit lemon.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

“Halo!” aku memanggil, berusaha terdengar ceria. “Aku tetangga barumu.”

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap, matanya menyempit sebelum berbalik dan menghilang ke dalam rumahnya tanpa sepatah kata pun.

Pintu terali berderit tertutup di belakangnya.

Aku mengangkat bahu, meyakinkan diri bahwa dia mungkin hanya salah satu dari tipe orang yang pemurung. Namun, keheningannya terus mengganggu pikiranku.

Aku menghabiskan sisa hari itu membongkar barang-barang, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang terus mengganggu.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Saat aku ambruk di sofa, kelelahan menguasai tubuhku, dan aku tertidur dengan gelisah, rumah itu terasa seperti sedang mengujiku, memutuskan apakah aku pantas berada di sana.

Aku terbangun oleh suara yang menarikku dari kedalaman tidur, suara yang tak bisa kukenali.

Awalnya, aku pikir mungkin angin yang mengguncang jendela tua, tapi kemudian suara itu datang lagi—lembut dan menyeramkan, seperti tawa anak kecil.

Jantungku berdebar kencang, keras dan mendesak, dan aku berbaring diam sejenak, berusaha mendengarkan lebih jelas. Apakah aku sedang bermimpi?

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Tawa itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Tinggi, riang, dan sama sekali tidak cocok dengan keheningan malam.

Kerongkongan saya menegang saat rasa takut menjalar di tulang punggung. Saya duduk, memindai ruangan yang gelap.

Bayangan memanjang di dinding, dan satu-satunya suara adalah detak jam tua di atas perapian. Tapi tawa itu nyata. Saya tahu itu.

Menelan rasa takut, aku meraih benda terdekat yang bisa kutemukan—sebuah sapu yang bersandar di sudut ruangan.

Telapak tanganku sudah basah, dan pegangan sapu terasa licin saat kugenggam erat.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Aku merayap melalui rumah, lantai kayu keras berderit di bawah kaki. Napasku pendek, dan setiap langkah membuat dadaku semakin sesak.

Suara itu semakin keras saat aku mendekati pintu basement. Kunci pintu itu berkilau samar dalam cahaya redup. Aku berhenti, menatap pintu seolah-olah pintu itu akan bergerak sendiri.

Perutku bergejolak saat aku mengangkat sapu, memegangnya seperti senjata. “Siapa di sana?” aku berteriak, suaraku gemetar.

Keheningan. Sejenak, aku berpikir mungkin suara itu hanya ada di kepalaku.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Lalu itu datang lagi—tawa kecil, diikuti oleh bisikan lembut yang membuat bulu kudukku merinding.

Aku tidak berani membuka pintu. Sebaliknya, aku mundur, meraih telepon dan menelepon 911 dengan jari-jari gemetar.

Suara petugas operator yang tenang mencoba menenangkanku, tapi yang bisa kulakukan hanyalah tergagap-gagap tentang suara-suara itu.

Dua puluh menit terasa seperti abad sebelum lampu merah dan biru berkedip-kedip akhirnya muncul di luar.

Seorang petugas polisi keluar, posturnya rileks, wajahnya tak terkesan. “Jadi, apa yang terjadi di sini?” tanyanya, menoleh ke arahku.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

“Ada seseorang di basement,” kataku, berusaha menenangkan suaraku. “Aku mendengar tawa.”

Dia mengangkat alisnya. “Tawa, ya?” Dengan menghela napas, dia mengambil obeng dari mobilnya dan mendekati pintu.

Suara kunci terbuka bergema di rumah yang sunyi. Aku menahan napas saat dia menghilang ke bawah tangga, senternya memancarkan bayangan aneh yang berkedip-kedip.

Beberapa menit kemudian, dia muncul kembali, menggelengkan kepalanya.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

“Hanya jaring laba-laba dan debu,” katanya dengan nada skeptis. “Tidak ada apa-apa di sana.”

“Tapi aku mendengarnya!” protesku, wajahku memerah.

Dia tersenyum sinis, mengangkat bahu.

“Kamu bukan yang pertama. Pemilik sebelumnya juga bilang hal yang sama. Kalau kamu takut, mungkin rumah ini bukan untukmu.”

Aku mengepalkan tinjuku, frustrasi membara. “Aku tidak akan pergi ke mana pun. Ini rumahku.”

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

“Silakan saja, dan semoga beruntung dengan rumah hantu itu.” Dia pergi sambil tertawa, meninggalkanku berdiri di lorong, memegang pel, marah saat suara mobilnya menghilang di kegelapan malam.

Keesokan paginya, teleponku bergetar di atas meja, memecah keheningan rumah.

Aku mengambilnya dan melirik layar. Nomor yang tidak kukenal. Dengan ragu, aku mengangkatnya.

“Halo?”

“Halo, ini Margaret,” suara tipis dan serak di ujung telepon.

“Pemilik sebelumnya. Hanya ingin tahu bagaimana kamu beradaptasi di sini.”

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Suaranya langsung membuatku was-was, seolah dia sudah tahu sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku ragu sebelum menjawab.

“Rumahnya indah,” kataku hati-hati. “Tapi… ada hal aneh yang terjadi tadi malam.”

Ada jeda. Aku bisa mendengar napasnya, lembut dan tidak teratur. Lalu dia menghela napas—suara panjang dan berat yang membuat perutku berdegup kencang.

“Kamu bukan yang pertama, Clara,” akunya akhirnya.

“Ada… sejarah dengan rumah itu. Beberapa orang bilang rumah itu angker. Aku sudah mencoba memperbaikinya, tapi tidak ada yang berhasil.”

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Angker? Kata itu menggantung di udara seperti kabut. Jari-jariku mengencang di sekitar telepon. “Sejarah apa?” tanyaku, suaraku lebih tegas daripada yang kurasakan.

Dia menghindar dari pertanyaan itu.

“Jika kamu ingin keluar, aku bersedia membelinya kembali,” katanya cepat, suaranya hampir putus asa. “Tidak dengan harga penuh, tapi cukup dekat.”

Tawarannya menggoda. Aku tidak perlu lagi menghadapi suara-suara aneh atau basement yang menyeramkan.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Tapi pikiran untuk menyerah membuat harga diriku terlukai. Aku telah bekerja keras untuk rumah ini. Aku tidak akan pergi begitu saja.

“Tidak,” kataku dengan tegas. “Aku akan mencari cara.”

Setelah kami menutup telepon, aku mengambil senter dan menuju ke basement. Udara di sana sejuk dan lembap, membawa bau jamur yang tak sedap.

Aku menyapu sinar senter ke seluruh ruang bawah tanah. Rak-rak berdebu, pipa-pipa tua, dan jaring laba-laba memenuhi pandanganku.

Lalu aku melihat sesuatu yang aneh—bekas goresan di lantai dekat ventilasi. Lemah tapi sengaja, seolah-olah sesuatu telah dipindahkan. Detak jantungku berdegup kencang. Ada yang tidak beres.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Malam itu, aku berbaring di tempat tidur, selimut ditarik erat-erat, setiap otot tegang. Aku menatap langit-langit, mendengarkan keheningan.

Namun, itu tidak tenang. Rasanya seperti rumah itu menahan napas, menunggu sesuatu terjadi.

Lalu, itu datang. Tawa itu. Suara aneh dan anak-anak yang membuat bulu kudukku merinding.

Aku duduk, jantung berdebar kencang, tapi kali ini bukan hanya tawa. Suara mendesis samar mengikuti, seperti udara yang keluar dari ban.

Dada saya terasa sesak saat saya meluncur keluar dari tempat tidur dan berjalan pelan-pelan ke bawah, setiap langkah berderit lebih keras dari yang saya inginkan.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Saat saya mencapai pintu basement, saya membeku. Kabut pucat merayap keluar dari bawah, melengkung seperti jari-jari hantu ke lorong.

Napas saya terhenti, dan saya meraba-raba ponsel, dengan cepat menekan 911.

Tak lama kemudian, mobil patroli polisi yang sudah familiar tiba. Petugas yang sama keluar, raut wajahnya campuran antara kesal dan tak percaya.

“Lagi?” katanya, menggelengkan kepala saat mendekat.

Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney

Sebelum aku bisa menjawab, mobil lain masuk ke halaman. Margaret keluar, wajahnya pucat dan kaku, gerakannya gugup.

“Aku mendengar apa yang terjadi,” katanya, menghindari tatapanku.

“Mari kita turun bersama,” usulku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang. Petugas polisi itu menghela napas tapi mengangguk, senternya sudah di tangan.

Margaret ragu-ragu, tapi dengan sekilas pandang padaku, dia akhirnya setuju.

Lantai bawah tanah sama kosongnya seperti sebelumnya—rak-rak berdebu, jaring laba-laba, dan bayangan.

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

“Lihat? Tidak ada apa-apa,” kata petugas itu, frustrasinya jelas. “Kamu yakin tidak sedang membayangkan sesuatu?”

Aku tidak mundur. “Aku memasang kamera,” kataku, mengeluarkan ponselku. “Mari kita periksa rekamannya.”

Aku menekan tombol putar. Video menunjukkan Margaret menyelinap ke ruang bawah tanah.

Dia membuka pintu, meletakkan speaker kecil di dekat ventilasi, dan menyiapkan mesin kabut sebelum cepat-cepat pergi.

Rahang petugas mengeras. “Well, well,” gumamnya. “Sepertinya kita punya kasus di sini.”

Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney

Wajah Margaret memerah. “Aku… aku hanya mencoba mengambil kembali rumah ini!” dia tergagap. “Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun!”

Petugas itu mengunci borgol di pergelangan tangannya. “Kamu bisa menjelaskan itu kepada hakim.”

Saat mereka membawanya pergi, aku berdiri di ambang pintu rumahku, bernapas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, aku merasa rumah itu benar-benar milikku. Aku telah berjuang untuknya, dan aku menang.

Beri tahu kami pendapatmu tentang cerita ini, dan bagikan dengan teman-temanmu. Mungkin ini akan menginspirasi mereka dan mencerahkan hari mereka.

Jika kamu menyukai cerita ini, baca yang ini: Hidup Molly sangat sulit. Kekhawatirannya utama adalah putranya, Tommy. Perpindahan sekolah dan kota yang terus-menerus tidak baik untuknya. Dia mulai mengganggu anak-anak lain dan memulai perkelahian. Dia tidak pernah membayangkan bahwa satu panggilan ke kantor kepala sekolah akan mengembalikan bagian dari hidupnya yang dia kira sudah hilang. Baca cerita selengkapnya di sini.

Cerita ini terinspirasi dari kisah-kisah kehidupan sehari-hari pembaca kami dan ditulis oleh seorang penulis profesional. Kesamaan dengan nama atau lokasi sebenarnya hanyalah kebetulan. Semua gambar hanya untuk ilustrasi.

Artigos relacionados

Botão Voltar ao topo