Ibu kandungku menyembunyikan pernikahannya dariku, tapi tak ada yang bisa mempersiapkan aku untuk siapa yang dia nikahi — Cerita Hari Ini

Larut malam, tenggelam dalam tumpukan berkas yang ditumpahkan oleh bosku yang kejam, aku mendapat telepon yang menghancurkan segalanya—ibuku akan menikah, dan aku tidak diundang. Aku tidak tahu apa yang lebih menyakitkan: rahasia itu… atau ketakutan akan apa—atau siapa—yang dia sembunyikan.
Aku berada di meja kerjaku di kantor, mata lelah, leher kaku, jari-jari sakit setelah seharian mengetik angka dan menulis ulang laporan yang sama tiga kali.
Cahaya monitor berkedip-kedip di atas tumpukan berkas yang belum selesai, menyorot bayangan panjang di meja seperti jari-jari bengkok yang menunjuk pada semua yang belum aku selesaikan.
Di luar jendela, langit telah berubah menjadi biru tua. Lampu jalan menyala satu per satu, seolah-olah tidak yakin apakah waktunya sudah tiba.
Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney
Gemuruh lampu fluorescent di atas kepala berbunyi pelan, menambah beban yang menekan bahu saya.
Saya meraih jaket, akhirnya siap untuk pulang, ketika pintu berderit terbuka. Masuklah
Michael—bos saya. Usia pertengahan 50-an, selalu mengenakan kemeja rapi seolah disetrika dengan penggaris, dan mata yang menembus Anda seolah Anda tidak ada di sana.
Dia memiliki ketenangan yang membuat Anda gugup.
Tanpa sepatah kata, dia meletakkan tumpukan laporan baru di atas meja saya. Kertas-kertas itu tersebar seperti longsoran salju.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
“Ini harus selesai malam ini,” katanya, tenang seperti biasa.
“Saya butuh laporan ini besok pagi.”
Saya mengedipkan mata, lalu melihat jam. 7:53 PM.
“Michael, hampir jam delapan,” kataku, berusaha menahan nada tajam dalam suaraku. “Aku sudah di sini sejak—”
“Ini harus selesai,” katanya datar, sudah berbalik pergi.
Aku menggigit bagian dalam pipiku agar tidak meledak. Dia selalu melakukan ini—menumpahkan beban kerjanya padaku di akhir hari seolah-olah aku tidak punya kehidupan sendiri. Seolah-olah waktuku tidak berarti.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Di pintu, dia berhenti, satu tangan di bingkai pintu.
“Satu lagi…” Dia menoleh ke arahku, mata menyipit seolah ingin mengatakan sesuatu yang penting. Tapi kemudian dia menggelengkan kepala.
“Lupakan saja. Lain kali.”
Dan dia pergi.
Aku duduk kembali di kursiku, tinju terkepal, jantung berdebar kencang. Enam bulan lagi, kataku pada diri sendiri. Hanya enam.
Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney
Lalu aku akan selesai dengan tempat ini. Aku ingin lebih dari ini. Lebih dari malam-malam larut dan kopi dingin dan detak jantung yang sunyi karena merasa tidak cukup.
Ketika akhirnya aku sampai di mobil dan menyalakan mesin, pemanas meniupkan udara bau ke wajahku. Ponselku berdering.
“Alice!” Suara Tante Jenny terdengar ceria.
“Jangan lupa—kau akan mengantarku ke pernikahan!”
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
“Pernikahan apa?” tanyaku, sambil tergopoh-gopoh memasang sabuk pengaman.
Dia tertawa seolah-olah aku baru saja menceritakan lelucon.
“Oh, kamu—jangan bilang kamu lupa hari besar ibumu!”
Tanganku membeku.
“Ibu akan menikah?”
Telepon terputus.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
“Dia tidak memberitahumu?”
Aku mengakhiri panggilan tanpa kata-kata lain. Dan langsung mengemudi ke rumah Ibu.
Aku berdiri di depan rumah Ibu, napasku membuahkan uap di udara malam yang sejuk.
Lampu teras berkedip di atasku, memancarkan cahaya kuning pucat yang membuat segalanya terasa lebih dingin.
Jantungku berdebar kencang di dadaku seperti burung kolibri yang terjebak, liar dan tidak pasti.
Ketika dia membuka pintu, rasanya seperti dihantam lagi—betapa familiarnya dia terlihat, dan betapa jauhnya dia tiba-tiba terasa.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Dia mengenakan sandal jepit pink lembut dan kardigan abu-abu tua yang berbau melati dan daun teh, seperti setiap pelukan yang pernah dia berikan padaku. Tapi malam ini, dia tidak menawarkan satu pun.
“Ibu,” kataku cepat, sebelum dia sempat menyapaku. Suaraku terlalu tajam, terlalu terburu-buru.
“Kenapa kamu tidak memberitahu aku bahwa kamu akan menikah?”
Dia tidak bergeming. Bahkan tidak berkedip. Matanya tertuju ke lantai di antara kami.
“Aku akan memberitahu,” katanya lembut.
Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney
“Aku menunggu waktu yang tepat.”
Aku menelan ludah. “Apakah aku diundang?”
Dia ragu-ragu, lalu perlahan menggelengkan kepala. Hatiku tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang.
“Lebih baik begini,” katanya.
“Untuk siapa?” Suaraku pecah, terlalu keras untuk malam yang sunyi.
Dia mundur, memegang pintu tapi tidak mengizinkanku masuk. Suaranya tetap tenang, tapi bahunya tegang.
Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney
“Untuk kita semua. Kamu sudah banyak stres belakangan ini. Aku tidak ingin menambah bebanmu.”
Tanganku mengepal di sisi tubuhku.
“Aku bukan anak kecil yang rapuh,” kataku. “Aku putrimu.”
Dia menatapku. Benar-benar menatap. Matanya dipenuhi sesuatu yang tidak aku kenali—kesedihan, mungkin. Atau rasa bersalah. Mungkin keduanya.
“Ada hal-hal yang belum kamu pahami,” katanya.
“Aku harap suatu hari nanti kamu akan mengerti.”
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Keheningan membentang di antara kami, lebih lama dari yang bisa kutahan. Aku berpaling sebelum dia melihat air mata yang mulai menggenang di mataku.
Aku tidak membanting pintu di belakangku. Aku hanya berjalan keluar dari teras seolah-olah itu tidak menghancurkan hatiku.
Tapi aku tahu satu hal: tak peduli apa yang dia pikirkan, aku akan hadir di pernikahan itu. Aku harus tahu siapa dia.
Aku harus tahu jenis pria seperti apa yang membuat ibuku menyembunyikan kebahagiaannya dariku.
Seminggu kemudian, seperti yang aku janji, aku menjemput Bibi Jenny dari apartemennya. Dia berdiri di tepi jalan, melambaikan tangannya seperti sedang menghentikan pesawat.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Gaun bunga-bunga cerahnya berkibar di angin, dan rambutnya diselipkan di bawah topi matahari yang miring.
“Oh sayang, berkah untukmu,” katanya saat dia naik ke kursi penumpang, membawa tas yang berbau permen mint dan parfum.
“Kamu tahu mobilku mogok lagi. Aku bersumpah dia menunggu hari-hari spesial untuk mati.”
Dia mengobrol sepanjang perjalanan—tentang kucing barunya, mobilnya yang rusak, gaun berwarna peach yang dia temukan di diskon, dan berapa lama dia tidak menari dengan seseorang yang lebih tinggi dari sapu dapurnya.
Aku hanya mendengarkan setengah-setengah. Jantungku berdebar kencang di dadaku seperti drum peringatan. Perutku terasa seperti dipenuhi lebah.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Ketika kami sampai di gereja, aku menempel erat padanya, menundukkan kepala. Udara di dalam sejuk dan berbau lili dan pembersih lemon.
Lilin berkedip-kedip di dekat altar, menyorot bayangan lembut di dinding.
Aku bisa mendengar bisikan salam dan suara langkah kaki yang pelan.
Lalu aku melihatnya—Ibu—berdiri di depan dalam gaun berwarna krem yang berkilau seperti salju basah. Senyumnya lembut, hampir gugup.
Dan di sampingnya berdiri seorang pria berpakaian jas gelap.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Jantungku berhenti berdetak.
Michael.
Aku mendesis keras dan tajam.
“Kamu akan menikahi bosku!?”
Semua kepala menoleh. Kata-kata itu memantul dari jendela kaca berwarna dan bergema kembali padaku.
Ibu tidak berkedip.
“Ini bukan tempatmu,” katanya lembut.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Sora
“Bukan tempatku?” Aku menggeleng.
“Dia bosku, Ibu! Kau tahu betapa aku membencinya!”
Michael melangkah maju, wajahnya pucat. “Aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun. Mungkin aku harus pergi.”
“Jangan,” bisik Ibu. “Jangan.”
Tapi dia sudah berjalan pergi, sepatunya berdentum di lantai gereja seperti batu berat.
Bahu Ibu terkulai. Dia mengangkat tangannya ke wajahnya, dan saat itulah aku melihatnya—dia menangis.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Aku menemukannya di parkiran gereja, berdiri sendirian di tepi tempat deretan semak pinus rendah membatasi trotoar.
Udara berbau tanah basah dan jarum pinus, berat karena hujan semalam. Langit kini abu-abu, seolah tak bisa memutuskan apakah akan cerah atau hujan.
Punggung Michael menghadapku. Bahunya membungkuk, dan angin menangkap ujung jaketnya, mengangkatnya dan membiarkannya berkibar seperti bendera yang mencoba menyerah.
Dia terlihat kecil somehow, seperti seseorang yang tak pantas berada di tengah-tengah apapun.
Untuk ilustrasi saja. | Sumber: Midjourney
“Michael,” aku memanggilnya, suaraku tersendat di udara dingin. Aku mempercepat langkah.
“Tunggu.”
Dia berbalik perlahan. Wajahnya tenang, tapi matanya terlihat lelah. Dia memasukkan tangannya ke saku.
“Kamu benar,” katanya. “Aku tidak seharusnya ikut campur antara seorang ibu dan putrinya.”
“Tidak.” Aku berhenti beberapa langkah darinya. “Aku yang salah.”
Dia menatapku. Bukan seperti bos. Bukan seperti pria yang terbiasa memegang kendali. Dia terlihat seperti seseorang yang telah menahan sesuatu terlalu lama.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
“Aku memberi kamu begitu banyak pekerjaan,” katanya.
“Bukan untuk menghukummu. Aku melihat apa yang bisa kamu lakukan. Aku pikir jika aku mendorongmu, itu mungkin membantumu naik lebih cepat. Aku pikir aku sedang membantu. Tapi itu kasar. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa dimanfaatkan.”
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sesak. “Aku membencimu karena itu,” kataku pelan.
Dia mengangguk. “Aku tahu.”
“Tapi aku tidak bisa memutuskan siapa yang membuat ibuku bahagia,” kataku. “Itu bukan hakku untuk mengendalikan.”
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Dia berkedip beberapa kali dan melirik ke arah gereja.
“Dia bilang dia tidak mengundangmu. Dia pikir kamu akan marah.”
“Dia mencoba melindungiku,” kataku.
Kami berdiri di sana untuk beberapa saat. Angin berhembus di sekitar kaki kami. Rasanya seperti sesuatu telah berubah.
“Kau harus pulang,” kataku dengan suara lembut.
“Dia membutuhkanmu.”
Dia menatapku sebentar, lalu mengangguk perlahan.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Dan begitu saja, kami berbalik dan berjalan kembali ke dalam—bersama-sama.
Upacara dimulai lebih lambat dari rencana, tapi tidak ada yang peduli. Perbincangan mereda saat musik mulai bermain.
Aku duduk di bangku depan bersama Bibi Jenny, yang memegang tanganku seolah-olah itu adalah tali penyelamatnya.
Genggamannya erat, hampir terlalu erat, tapi aku tidak menarik tanganku. Aku membutuhkannya.
Lalu pintu terbuka lagi—dan di sana dia berdiri. Michael.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Ibu melihatnya sebelum orang lain. Wajahnya bersinar, dan senyum yang mekar di bibirnya begitu penuh kebahagiaan, hampir membuat air mata mengalir dari mataku.
Tak ada pendeta yang bisa berbicara lebih jelas dari tatapan itu. Itu adalah cinta. Sederhana dan utuh.
Ketika mereka berdiri bersama di altar, cahaya dari kaca patri memancarkan bercak-bercak warna di atas mereka—merah, biru, dan emas seperti selimut patchwork.
Saat waktunya mengucapkan janji, Ibu menyebut namanya seolah-olah itu sesuatu yang suci, sesuatu yang telah dia simpan di hatinya selama bertahun-tahun.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
Dan kemudian, saat pidatonya, Michael menatap langsung ke arahku dan berkata, “Untuk Alice, yang mendorongku untuk menjadi lebih baik.”
Napasku terhenti. Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan kata-kata itu, jadi aku menahannya erat-erat, seperti sesuatu yang hangat di tangan yang dingin.
Resepsi itu sederhana, diadakan di aula komunitas.
Rantai lampion kertas berkilauan di atas kami, bergoyang lembut diterpa angin dari kipas langit-langit.
Udara beraroma ayam panggang, roti hangat, dan jagung bermentega.
Ibu menemukan aku saat lagu lambat diputar dan mendekat.
Hanya untuk ilustrasi. | Sumber: Midjourney
“Kamu benar-benar baik-baik saja dengan ini?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk. “Kamu pantas mendapatkan kebahagiaanmu sendiri.”
Dia mencium keningku, lembut dan bangga. “Kamu juga.”
Michael bergabung dengan kami, meletakkan tangan yang tenang di bahuku. Sesuatu di dalam diriku bergeser—bukan cinta, belum, tapi sesuatu yang dekat. Sesuatu yang mungkin.
Malam itu, ibuku menikah. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasa seperti kehilangan dia.
Aku merasa seperti akhirnya bertemu dengannya—sungguhan.
Ceritakan pendapatmu tentang cerita ini, dan bagikan dengan teman-temanmu. Mungkin ini akan menginspirasi mereka dan mencerahkan hari mereka.
Jika kamu menyukai cerita ini, baca yang ini: Saat Laura berduka atas kematian ibunya, setiap kenang-kenangan menceritakan kisah ketahanan dan cinta—tapi sebuah surat misterius yang menuduh ibunya mencuri, menghancurkan kedamaian dukanya. Apa rahasia yang tersembunyi dalam kekayaan keluarganya, dan sejauh mana Laura akan pergi untuk mengungkap kebenaran?
Baca cerita selengkapnya di sini.
Cerita ini terinspirasi dari kisah-kisah kehidupan sehari-hari pembaca kami dan ditulis oleh seorang penulis profesional. Kesamaan dengan nama atau lokasi sebenarnya hanyalah kebetulan. Semua gambar hanya untuk ilustrasi.




